Jumat, 12 Desember 2008

BURUH BERGERAK ADALAH KEMESTIAN BUKAN PILIHAN

BURUH BERGERAK ADALAH KEMESTIAN BUKAN PILIHAN

Trade Union Care Center (TUCC) mengadakan launching dan bedah buku “Buruh Bergerak (sebuah konstruksi ideologi)” di CafĂ© Solong Banda Aceh dan buku tersebut merupakan karya Andito seorang aktivis MAULA (Masyarakat Universal Lintas Agama-Jakarta), yang selama ini juga aktif dipengkaderan mahasiswa dan training buruh. Bedah buku ini di ikuti oleh puluhan peserta dari berbagai elemen/kelas baik dari kalangan buruh, mahasiswa, aktivis NGO dan praktisi.

Launching dan bedah buku ini juga menghadirkan 2 orang pembahas, yaitu saifuddin bantasyam.SH.Mhum yang melihat dari persfektif akademisi dan pengamat sosial, dan pembahas kedua adalah Thamren ananda yang membedah dari persfektif aktivis pergerakan. Selain diskusi terbuka ditemapat acara Launching buku ini juga bisa didengar oleh masyarakat banda Aceh melalui on air radio Antero. Adapun tujuan dari launching ini adalah untuk mempublikasikan hasil karya Andito yang diterbitkan oleh TUCC dan FES Indonesia. Sehingga semua kalangan bisa mengetahui dan memahami tujuan dan makna dari penulisan buku tersebut. Karena buku ini melihat buruh dari sisi lain terutama kesadaran ideologi gerakan.

Dalam bedah buku tersebut Andito mengemukakan dasar dan alasan penulisan buku terutama substansinya bukan untuk mengajarkan atau menggurui melainkan untuk refleksi bersama terhadap pandangan dan paradigma kita selama ini terhadap buruh. Dan pemilihan judul buku “buruh bergerak” merupakan gambaran umum bahwa buruh adalah salah satu faktor penggerak pertumbuhan ekonomi perusahaan dan negara. Tanpa buruh maka juga tak ada yang namanya produk dan jasa. Bagaimanakah kita keluar dari stereotip klise tentang hubungan industrial antara pekerja dan pengusaha? Dalam benak masyarakat luas, korporasi adalah sebuah lembaga bisnis yang berusaha meraih keuntungan material sebanyak mungkin dengan menekan pengeluaran seminimal mungkin. Sedangkan pekerja, atau buruh, adalah bagian dari produksi yang menerima penindasan tersebut karena tidak punya pilihan lain untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Fenomena ini cukup menyadarkan bahwa nasib buruh ditentukan oleh dirinya sendiri. Buruh harus memperkuat nilai tambahnya sehingga layak diperhitungkan. Pemposisian ini penting. Gerakan kaum buruh berpengaruh pada kemajuan sebuah negara. Kehadiran buruh menentukan jumlah pengangguran dan penduduk miskin di suatu negara. Gerakan buruh juga mampu melumpuhkan roda ekonomi nasional.

Tapi, mengapa buruh selalu terikat dengan perusahaan? Sedemikian lengketnya hingga ada wanti-wanti, “Cintailah pekerjaanmu, tapi jangan perusahaanmu, karena kau tidak pernah tahu kapan perusahaanmu berhenti mencintaimu.” Jawabannya, menurut penulis, sederhana: karena buruh tidak punya ideologi.

Efek dominonya, gerakan buruh tidak solid dan kompak; Gerakan buruh mudah terpecah belah dan terfragmentasi dalam berbagai kepentingan instan dan jangka pendek; Buruh mengalami disorientasi aksi dan kerja. Mereka bingung mau ke mana dan mau apa; Buruh tidak pernah berpikir taktis dan strategis. Dengan nafas pendeknya, maka sulit bagi (pengurus/aktivis) buruh untuk melakukan perkaderan; Akibatnya, buruh mengalami split personality. Buruh diposisikan sebagai ampas kapitalisme yang kalah. Mengapa akhirnya bila kita amati bagaimana buruh itu ingin survive, dia melulu memikirkan usaha mandiri secara individual, misalnya buka konter pulsa dan warung kelontong. Alam bawah sadarnya bercita-cita menjadi pengusaha. Tapi mereka tidak sadar, kapitalisme adalah sistem yang hidup dan bisa menghidupi dirinya sendiri. Artinya, siapapun orang, aliran ideologi dan golongannya, akan berlaku sebagai kapitalis ketika masuk dalam labirin kapitalisme.

Buku ini bertujuan memperkuat minda buruh dalam menatap dirinya dan hubungannya dengan industri tempatnya bekerja; menyadarkan pihak luar, terutama negara dan korporasi, bahwa buruh adalah aset yang luar biasa, karenanya janganlah diabaikan begitu saja. Pengabaian hak-hak mereka hanya akan memperburuk kesenjangan antara pekerja dan pengusaha dan ujung-ujungnya bisa menganggu proses produksi. Akhirnya, korporasi pula yang merugi.

Membangkitkan buruh harus dibangkitkan kesadaran ideologisnya. Kesadaran ideologis akan memperbaiki kualitas pribadi buruh. Buruh yang punya nilai lebih dalam hal ideologi dan kemampuan berserikat dalam menghadapi dengan struktur kekuasaan yang lebih kuat.

Buku ini bukan sekadar teori, tapi ekstraksi pengalaman dan catatan perjuangan yang telah dan sedang dilakukan. Penulis meyakini, kapitalisme dilawan secara personal, bukan sistemik, sehingga perlawanan berlangsung sporadis dan hanya menghabiskan energi belaka. Di sisi lain, penganut sosial demokrasi banyak yang hanya wirawiri di permukaan saja, seperti di media massa dan seremoni wacana di kampus, lembaga penelitian, dan seminar-seminar, yang jelas-jelas sudah menjadi areal main kapitalisme dalam penciptaan simbol. Memang tidak salah, namun mengabaikan kenyataan bahwa basis dasar ideologi sosdem adalah penguatan masyarakat sipil --dan itu memprasyaratkan pembangunan basis ideologi dan memandirikan kelas pekerja— hanya menjadikan ideologi sosdem sekadar gincu wacana.

Sementara itu dari sisi akademis saifuddin bantasyam selaku dosen Fakultas Hukum Unsyiah juga pengamat sosial dan HAM, juga punya penilaian sendiri dan lebih banyak mengkritisi dari segi lay out dan cara penulisan buku, termasuk juga mengusulkan untuk judul harus diganti dengan “buruh perlu bergerak” dengan tujuan lebih kreatif dan provokatif. Dan secara penulisan menurut saifuddin bantasyam buku tersebut punya cirikhas dan menarik karena juga menampilkan bagan setelah pembahasan per Bab dan dia belum pernah menemukan buku sosial seperti itu. Dan sebenarnya di indonesia persoalan buruh tidak lagi terbatas pada regulasi hukum nya melainkan pada struktur hukum yaitu mengenai kapasitas eksekutor dan pengawas dari kebijakan tersebut yang belum maksimal.

Sementara itu Tamren Ananda selaku aktivis pergerakan yang juga sekjend PRA punya pendapat bahwa secara umum buku tersebut bagus dan menarik untuk dimiliki oleh setiap buruh. Karena gerakan buruh hari ini lebih didominasi oleh kepentingan ekonomis dibandingkan ideologis, sehingga gerakan buruh tidak efektif dan pragmatis. Dan ketika ditanya apa konsep dan upaya dari PRA terhadap buruh Aceh hari ini, dia menjawab bahwa kedepan harus dibuat sebuah qanun yang mangatur tentang standarisasi pengupahan yang layak, dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan buruh. Menyikapi makna ideologis tamren mengatakan bahwa ideologis itu bukan hal yang tabu dan berat untuk dilaksanakan karena ia merupakan kesatuan gagasan atau ide yang diikuti dengan tindakan nyata.

Muhammad Arnif

Kadiv.Edukasi dan Advokasi TUCC

Senin, 07 April 2008

Social Program

Trade Union Care Center sejak tahun 2005 sampai dengan 2008 telah membangun 4 Community Center atau juga dikenal dengan nama PKM (Pusat Kegiatan Masyarakat) pada 4 lokasi :
1. Cot Suruy (Aceh Besar)
2.Krueng Sabee (Aceh Jaya)
3.Padang Mancang (Aceh Barat)
4.Teunom (Aceh jaya)

Basic Leadership Training Saree 08-13 April 2008

Trade Union Care Center bekerjasama dengan FES akan melaksanakan Basic Leadership training bagi anggota serikat pekerja/serikat buruh dalam rangka peningkatan kapasitas pekerja dan pemahaman terhadap UUD ketenagakerjaan serta merupakan wujud solidaritas para pekerja dalam membangun bangsa