Sabtu, 27 Desember 2014

BERSERIKAT ADALAH KEMESTIAN, BUKAN PILAHAN.

Setiap orang akan mati. Tapi mati sebagai apa, kitalah yang menentukan. Al-Qur'an menyatakan bahwa ''Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS.13:11"

Ya, setiap orang memiliki tujuan hidup, kewajiban dan hak nya yang berbeda-beda juga, resolusi setiap orang tidak bisa disamakan donk. Perjuangan melawan kezaliman korporasi dan segala efek buruk dari ekonomi pasar liberal tertancap dalam sanubari aktivis serikat pekerja/buruh sejak organisasi tersebut didirikan. Sebagai satu-satunya wadah perjuangan, kelangsungan dan masa depan kerja ditentukan oleh seberapa besar militansi dan kesolidan buruh di internal korporasi. Dalam setiap perjuangan, langkah-langkah harus dihitung secara cermat. kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal, baik untuk diri sendiri apalagi organisasi.

Setiap perjuangan pasti menuntut pengorbanan. Pada konteks perjuangan serikat buruh/pekerja, pengorbanan adalah usaha terakhir dari rentetan perlawanan melawan kezaliman korporasi. Setelah sebelumnya aktivis serikat merakukan perumusan dan penyolidan idiologi, membangun solidaritas, dan memberikan keteladanan. Tontonlah film "Vertical Limit (2000)", sebuah film thriller yang mengisahkan  Royce Garrett, seorang pecinta olah raga panjat tebing, yang tewas demi menyelamatkan kedua anaknya, Peter dan Annie Garrett. Adegan tersebut, sering dijadikan slide inspirasi dalam berbagai pelatihan, mengajarkan kepada kita bahwa mengambil keputusan kritis sangat dianjurkan dalam sebuah perjuangan, meski nyawa taruhannya.

Kita bersyukur kepada Tuhan atas rezeki berupa kenaikan gaji, bonus dan tunjangan. Namun kita tidak berpikir panjang bahwa semua itu adalah hasil dari perjuangan serikat, perjuangan teman-teman pengurus yang tidak bisa meluangkan waktu bersama keluarga tercinta. Pengurus yang selalu meralat janji-janji sederhana kepada orang-orang terdekatnya, untuk kesekian kalinya.Menemani anak jalan-jalan, mengantar anak ke sekolah, membeli mainan untuk anak, menemani isteri belanja, membereskan rumah dan nonton televisi bersama. Janji-janji yang tidak mahal secara material. Namun, sistem korporasi membuat hubungan privat ini rusak.

Kini, apakah yang bisa kita korbankan untuk serikat kita? pengorbanan tidak harus berupa uang. Tapi kita tahu ada hal-hal yaang tidak bisa diganti dengan uang. Sesuatu yang dianggap remeh oleh korporasi. Hal itu bisa jadi adalah ketemu setiap saat dengan keluarga kita, berlibur dan bersenang-senang dengan mereka, melakukan aktivitas bersama keluarga. Demi perjuangan serikat, semua ini harus bisa kita kesampingkan dahulu. Bisakah semua itu kita korbankan demi kepentingan serikat? tujuan pengorbanan demi kepentingan dan tujuan yang lebih besar. Berserikat bukan untuk mengabaikan keluarga kita, bukan memperjuangkan nilai-nilai sekunder dan mengesampingkan wilayah primer. Kepercayaan kita membimbing kita untuk kembali menegaskan posisi keluarga didalam masyarakat, bukan sebaliknya.

Jauh sebelum kita aktif di serikat, sesungguhnya amanat perjuangan sudah diletakkan ke punggung kita oleh kedua orang tua kita. Amanat yang isinya bukan sekedar bahwa kita harus bekerja sebagai karyawan yang baik agar bisa sukses dan sejahtera sendiri. Melainkan amanat agar kita menjadi makhluk yang bernilai bagi masyarakat, yang membanggakan  dan mengharumkan nama kedua orang tua kita. Harta apa yang bisa kita berikan kepada kedua orang tua dan keluarga selain rasa bangga bahwa kita menjadi pembela kemanusiaan. Menjadi orang terdepan dalam melawan kezaliman korporasi yang merajalela. Kata sebuah teks suci, "Berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu, nanti anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu". Berserikat adalah pembuktian bakti kita kepada kedua orang tua. Mereka banting tulang menyekolahkan kita agar kita dapat ijazah. Dengan ijazah itulah kita bekerja di korporasi, tempat melabuhkan jiwa dan tubuh kita kepada serikat pekerja. Berserikat adalah pola pikir dan aura naluriah kita dalam memandang hubungan industrial. Bahwa korporasi sebagai sebuah institusi dan sistem yang tidak bisa dilawan secara individual. Sistem harus dilawan dengan sistem. Untuk itulah kita berserikat.

Aura serikat akan menebar kesekeliling kita, menyatu dalam keringat dan dengus nafas kita, menjiwai seluruh perbuatan kita. Mungkin saja beberapa tahun kemudian tidak ada buruh yang mengenal kita. Mungkin buruh-buruh yang ada pun tidak peduli dengan serikat. kita tidak perlu hiraukan. Yang kita tahu adalah bahwa mereka, keluarga, dan seluruh tanggungan mereka turut menikmati hasil perjuangan kita di serikat. Perjuangan yang berdarah-darah, dengan segala pengorbanan batin keluarga kita.

Kesejahteraan tidak jatuh dari langit, namun ia harus diperjuangkan. Agar buruh mempunyai daya juang yang tinggi, ia perlu mempunyai misi suci (mission sacre) yang sifatnya transenden, yaitu sesuatu nilai yang sifatnya abstrak dan tidak bernilai material yang menjadi sumber kebahagiaan dan keselamatan. Simbol transenden ini bisa berupa agama, idiologi, partai atau figur. Dengan berpegang kepada sistem  nilai tersebut, buruh memaknai kerja-kerja organisasi sebagai suatu bentuk ibadah dan pengabdian. Bahkan spirit yang kuat mampu menghantarkan buruh untuk berani melepas nyawanya demi simbol transenden tersebut. Dengan kontemplasi intelektual dan refleksi spritual, buruh meyakini dalam susunan alam semesta ini kebenaran harus tegak mengalahkan kejahatan.

Disinilah buruh bergerak sebagai Citra Sang Transenden dalam wadah serikat pekerja/buruh. Menjadi rahmat bagi alam semesta dengan memperjuangkan kebenaran, melaksanakan kebaikan dan menegakkan keadilan. Inilah inti dari idiologi buruh berserikat.

Buruh harus menyadari bahwa posisinya lemah dihadapan korporasi. Buruh hanya individu, sedangkan korporasi adalah sebuah sistem. Buruh harus berserikat agar ia setera dengan korporasi dan tidak menjadi objek eksploitasi korporasi. Berserikat adalah kemestian, bukan pilihan, sebagaimana adalah keniscayaan akumulasi modal hanya dapat dihadapi dengan akumulasi massa buruh.

by Zakir

Tidak ada komentar: